Kamis, 09 Mei 2013

Marketing fingerprint test belajar pada blog ini.



Kami diminta untuk memberikan konsultasi oleh pihak sekolah di Tabalong Kalimantan. Awalnya kami merasa aneh karena kami diminta untuk memberikan konsultasi atas hasil fingerprint test dari pihak kompetitor. Bukankah pemilik fingerprint test itu yang sesungguhnya bisa memberikan konsultasi atas laporan fingerprint test yang dihasilkannya. Berdasar atas permintaan tersebut maka kami meminta perwakilan dari pihak sekolah untuk memberikan alasan mengapa menggunakan jasa kami untuk memberikan konsultasi. Akhirnya kami dipertemukan dengan pihak marketing, yang mengenalkan fingerprint test tersebut ke sekolah itu.

Berdasar atas hasil pembicaraan dengan pihak marketing, maka didapatkan kesimpulan tentang permasalahan yang terjadi. Pihak konselor pembaca hasil laporan fingerprint test sudah memberikan konsultasi di sekolah tersebut. Namun belum selesai seluruh pengguna jasa fingerprint diberikan konsultasi, konselor pembaca hasil fingerprint test sudah kembali ke Jakarta. Ada permasalahan apakah ?  Pihak marketing tidak bisa menjelaskan secara detail penyebab tidak dilanjutkannya konseling  meskipun tiket kepulangan ke Jakarta  masih ada waktu 3 hari lagi ( mengingat cukup banyak orang yang membutuhkan konsultasi ). Kamipun membatasi jumlah yang bisa kami lakukan konseling, dimana untuk selanjutnya menggunakan jasa fingerprint test kami. Apakah perbedaannya dengan laporan fingerprint test lain, tanya sang istri. Itu bisa bapak – ibu pelajari dari blog kami ini. Akhirnya marketing tersebut menceritakan bahwa ia sudah cukup lama belajar fingerprint test dari blog ini karena tidak ada blog yang menjelaskan detail tentang fingerprint test. Bahkan dalam buku fingerprint test yang beredar juga mengambil informasi dari blog ini tanpa menyebutkan siapa penulis dari blog kami. Ia pun menunjukkan copy materi fingerprint test dari blog kami yang disimpannya di notepadnya.

Disepekati yang dapat  kami berikan konseling hanya sebatas 32 orang karena kami telah mendapatkan banyak permintaan fingerprint test ulang dari orang tua baik di Jakarta maupun Surabaya. Hasil fingerprint test ternyata berbeda. Kami juga meminta pada pihak marketing untuk diadakannya seminar fingerprint test analisa sidik jari agar orang tua memahami perbedaan pelaporan hasil fingerprint test. Disamping seminar umum, kami juga meminta untuk diadakan konseling kelompok agar pemahaman orang tua dapat jauh lebih baik dimana mereka bisa menjadi lebih paham tentang perbedaan masing-masing individu. Dengan cara demikian maka orang tua menyadari perbedaan treatment atau perlakuan antara anak satu dengan yang lainnya. Pada saat konseling pribadi, waktu konseling menjadi  jauh lebih singkat karena pemahaman orang tua. Konseling lebih diprioritaskan tentang bagaimana melakukan pengembangan pada anak dan kasus-kasus yang dihadapi orang tua dalam menangani anaknya. Didalam lingkungan kerja, mereka menjadi jauh lebih memahami rekan kerjanya dan bagaimana mereka memberikan penugasan atau saling berinteraksi antara satu dengan lainnya.

Pada akhirnya kami juga meminta seluruh laporan hasil fingerprint test tersebut untuk dipelajari lebih dulu. Laporan yang diberikan kepada kami, berupa urutan kecerdasan individu dari 8 kecerdasan bukan 10 kecerdasan sesuai dengan jumlah sidik jarinya. Laporan juga tidak mencantumkan karakter individu yang sebetulnya bermanfaat bagi orang tua untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan anaknya sesuai dengan karakter dan kecerdasannya. Kamipun menyiapkan slide presentasi untuk pembahasan konseling kelompok dengan laporan fingerprint dari kompetitor.

Selamat mengembangkan diri, salam sukses selalu

Drs. Psi. Reksa Boeana
Executive Partner PT. Smart Business Solution
031-8781491

Rabu, 08 Mei 2013

Jangan Mudah Percaya pada Hasil Fingerprint Test



Dengan semakin banyaknya penawaran fingerprint test untuk mengungkap bakat-potensi individu, maka kita perlu berhati-hati dalam memilih fingerprint test yang tepat. Perlu diketahui bahwa hasil fingerprint test itu berbeda antara satu provider dengan provider lainnya. Kami sendiri telah berulang kali mendapatkan permintaan untuk melakukan fingerprint test ulang ketika orang tua memandang ada kejanggalan penjelasan yang diberikan pada saat konsultasi. Sungguh sangat menyesatkan bila terjadi kesalahan dalam identifikasi atas bakat anak yang akan beresiko dalam pengembangan anak selanjutnya.  

Dalam setiap kami memberikan konsultasi hasil fingerprint test, maka kami selalu melakukan evaluasi gejala kecerdasan yang terjadi pada anak untuk menambah keyakinan atas hasil fingerprint test. Bahkan manakala kami diminta membacakan hasil dari fingerprint test lain (kompetitor) dengan menyebutkan gejala kecerdasan pada perilaku nyata sang anak atau testee, mereka meminta untuk diadakan fingerprint test ulang dan” Hasilnya berbeda”. Oleh karena itu kami selalu sarankan untuk melihat gejala kecerdasan anak, agar dapat melihat tingkat akurasi hasil fingerprint test. Dalam konsultasi, kami memberikan contoh-contoh gejala kecerdasan yang ditampakkan anak selama proses konsultasi agar orang tua menjadi paham dan tahu apa yang perlu untuk dilakukan dalam pengembangannya. (baca tulisan lain dalam artikel blog ini).

Langkah yang sangat bijak bila orang tua yang ingin mendapatkan hasil fingerprint test atas putranya, terlebih dahulu untuk meminta dibacakan karakter dirinya sendiri. Orang tua dapat menanyakan pada analys fingerprint tentang karakter dirinya untuk meyakinkan ia berhadapan dengan analys yang memang mampu membaca sidik jari. Analys akan meminta orang tua untuk melihat ke 10 jarinya dan memberikan penjelasan tentang karakter dari orang tua. Melalui tindakan ini maka orang tua akan menyadari tentang akurasi dan perlunya melakukan identifikasi potensi kecerdasan anak sejak dini sehingga akan memiliki banyak peluang untuk melatih dan mengembangkan potensi anak.

Hindari mengikut sertakan anak dalam mengikuti test  analisa potensi kecerdasan melalui sidik jari. Banyak orang tua yang melaporkan bahwa anaknya diikut sertakan dalam tes sidik jari karena anjuran dari pihak institusi tempat si anak belajar. Sebaiknya orang tua memahami terlebih dahulu tentang akurasi informasi dalam identifikasi tersebut dan mempelajari contoh hasil laporan fingerprint testnya. Kemudian melakukan konsultasi atau konfirmasi pada sesama orang tua yang telah mengikut sertakan anaknya dalam tes sidik jari. Bila dimungkinkan, lakukan konsultasi pada analys fingerprint. Perlu kami sampaikan disini, karena banyak orang tua ikut-ikutan karena latah. Bukan persoalan biaya yang harus dibayarkan tetapi tanggung jawab moral dalam mengembangkan anak untuk masa depannya.

Demikian yang dapat kami sampaikan, moga dapat membantu dalam memilih fingerprint test yang lebih tepat dalam mengidentifikasi potensi kecerdasan individu.

Salam sukses selalu
Drs.Psi. Reksa Boeana
Executive Partner PT. Smart Business solution.
031-8781491

Senin, 02 Juli 2012

Kecerdasan Logika Tinggi Vs Logika Kurang

Individu yang memiliki kecerdasan logika tinggi cenderung memiliki ciri-ciri : mudah menerima informasi/pembelajaran baru, butuh waktu yang singkat untuk memahami persoalan, mampu untuk berpikir secara strategi, mampu memecahkan suatu permasalahan dengan dengan alternatif yang telah ditimbang dengan baik. Dengan mengetahui kemampuan individu maka akan lebih mudah dalam memilih metode pembelajaran.

Individu dengan kecerdasan ini tergolong memiliki kemampuan yang cepat dalam menyerap informasi baru. Ia mampu untuk melakukan modifikasi terhadap apa yang telah diterimanya sehingga hal tersebut menjadi suatu hal yang baru dan memiliki nilai yang lebih tinggi. Dengan kemampuannya tersebut terkadang individu dengan kecerdasan ini cenderung untuk meremehkan pelajaran/informasi yang diterimanya, ia cenderung beranggapan bahwa hal tersebut adalah mudah.

Seorang individu dengan kecerdasan logika pada level 1 – 4 akan lebih cepat untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang membutuhkan kecepatan dan kemampuan analisa. Individu tersebut dengan sedikit contoh dan penjelasan akan mampu untuk menuangkannya menjadi suatu program / hasil kerja yang nyata.
Lainnya halnya apabila individu memiliki level kecerdasan logika 5 – 7. Individu ini dalam mengerjakan suatu hal yang baru membutuhkan instruksi dan pengalaman yang berulang. Diharapkan dari instruksi dan pengalaman yang berulang tersebut bisa membuat individu memahami dengan cepat. Individu dengan level kecerdasan tersebut apabila menghadapi suatu permasalahan yang sedikit memiliki perbedaan cenderung akan kebingungan untuk memahaminya sehingga baik bagi individu untuk memperkaya informasinya, baik melalui pengalaman ataupun melalui buku-buku yang dibacanya (pengakuan beberapa orang klien pada saat konsultasi)

Melalui fingerprint test dapat diketahui peringkat kecerdasan ini, yang berguna dalam memilih metode belajar yang tepat bagi anak. Berguna pula bagi individu dalam mempersiapkan apa yang akan dilakukannya sehingga hasilnya menjadi lebih optimal. Dengan mengenali potensi kecerdasan akan memudahkan setiap individu untuk berkreasi dan berkembang.

Salam Sukses Selalu
Olsa Desiastu, S.Psi.
Senior Konsultan Smart Business Solution

Senin, 04 Juni 2012

Cerita seorang guru


Seorang pengajar (kls 2 SD) datang dan bercerita pada kami, bahwa ia memiliki seorang murid laki-laki yang menurut dia si murid adalah anak yang sangat sulit untuk menerima pelajaran. Pada saat pelajaran berlangsung murid tersebut hanya mampu duduk diam beberapa menit saja dan selanjutnya ia akan berjalan-jalan namun tidak mengganggu temannya namun secara tidak langsung hal tersebut mempengaruhi keadaan kelas. Ia juga sering tidak mau menyiapkan perlengkapan untuk belajarnya, apabila di tanyakan apakah ia membawa perlengkapan belajar selalu jawabannya adalah “ga tau mama tuch”, dan kemudian teman sekelasnya yang mencarikan buku maupun peralatan sekolahnya di dalam tas yang bersangkutan. Seringkali pengajar kesal dibuatnya, setiap ujian yang di berikan tidak pernah si murid mendapatkan nilai yang memuaskan.


Pengajar juga mengatakan bahwa waktu TK, individu adalah anak yang ringan tangan, seluruh teman sekelasnya tidak ada yang luput dari pukulannya. Namun setelah memasuki SD hal itu sudah berkurang.
Karena kesal yang sudah berujung akhirnya pengajar menerapkan sistem bahwa setiap hari semua murid akan diberi PR dan setiap jam pelajarannya semua murid di wajibkan untuk mengikuti ujian sebelum memulai pelajaran topik berikutnya. Hal ini terjadi berulang setiap hari dan hasil yang di dapat oleh individu tidaklah mengecewakan.

Dari sepenggal cerita pengajar tersebut, kalau di tinjau dari sisi fingerprint test ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi :


1. Bisa jadi individu memiliki kecerdasan logika yang tergolong rata-rata, ia membutuhkan latihan berulang dan waktu yang relatif lebih panjang untuk memahami hal baru. Agar ia menjadi cakap maka individu cenderung membutuhkan pengalaman dan latihan. Baik individu untuk mendapatkan tambahan pelajaran sehingga kemampuannya tersebut menjadi lebih optimal. Dapat juga individu untuk mengikuti kursus yang menerapkan sistem pengulangan seperti kumon dan les-les tambahan. Hal ini dibuktikan dengan hasil ulangan yang cukup memuaskan pada individu setelah sang penggajar memberikan tugas-tugas dan ujian sebelum menambah materi pelajaran.”sukses terlahir karena latihan yang tepat”.


2. Di tinjau dari ciri-ciri individu yang tidak bisa duduk lebih lama untuk memperhatikan pelajaran dalam kelas, senang berjalan-jalan dapat di tarik kesimpulan individu memiliki cara belajar sensori learner. Dengan gaya belajar seperti ini daya tahan individu untuk belajar dengan kondisi duduk diam sangat rendah sehingga ia cenderung akan menggerak-gerakkan anggota tubuhnya. Baik bagi individu dalam belajar dengan menggerak-gerakkan anggota tubuhnya sehingga apa yang dipelajarinya menjadi lebih optimal. Dengan tipe seperti ini individu akan lebih mudah memahami apa yang dipelajarinya dengan ikut merasakan atau melakukan hal tersebut. Misalkan untuk penghitungan panjang 1 meter + 2 meter + 1 meter jumlahnya adalah ....... Bagi individu akan lebih mudah apabila ia menggunakan alat bantu ukur (meteran / penggaris) dan melakukan pengukuran tersendiri.


3. Manakala individu adalah seorang audio learner maka ia cenderung lebih menyukai belajar dengan mendengarkan sehingga ia cenderung belajar dengan bersuara. Ciri-cirinya adalah apabila ia membaca atau menulis pasti ia akan menyuarakan apa yang dibacanya atau d tulisnya. Dengan telinganya mendengar ia akan mengoptimalkan kemampuanya dalam menyerap dan memahami apa yang dipelajari.


4. Manakala kita perhatikan bahwa individu memiliki kemauan yang kuat untuk mendapatkan sesuatu dengan ciri-ciri apabila kita memberikan janji ia akan mengejar hingga janji tersebut terpenuhi maka bagi individu dengan karakter demikian untuk mengajaknya belajar / bekerjasama akan lebih mudah dengan melakukan persetujuan / kesepakatan. Dengan kesepakatan yang dilakukan maka individu akan mempunyai kewajiban terhadap apa yang dikehendakinya.


Dengan mengetahui kelebihan individu maka kita akan lebih mudah dan waktu yang diperlukan akan cenderung lebih singkat untuk menjadikan individu lebih optimal. Melalui fingerprint test maka kita dapat mengetahui kelebihan dan potensi yang dapat dikembangkan dengan lebih cepat dan optimal.

Salam Sukses Selalu
Olsa Desiastu, S.Psi.
Senior Konsultan Smart Business Solution

Senin, 21 Mei 2012

Kecerdasan Imajinasi Vs Kecerdasan Logika




Seorang individu yang memiliki kecerdasan logika tinggi akan menghubungkan suatu kejadian dengan kejadian yang lain secara logikanya. Misalnya saja pada saat dalam perjalanan tersebar kertas berwarna kuning dengan jumlah yang cukup banyak. Individu dengan logika tinggi akan berpikir dengan tersebarnya kertas-kertas tersebut mengindikasikan telah terjadi sesuatu. Individu tipe ini akan mencari tahu apa penyebab hal itu terjadi dan apabila sudah mengetahuinya maka ia akan mencari tahu untuk apa itu dilakukan.
Sedangkan bagi individu yang memiliki kecerdasan imajinasi berpendapat lain, ia tidak akan melihat kaitan kejadian melainkan lebih pada sisi lainnya misalkan kehilangan benda. Dengan tersebarnya kertas-kertas kuning tersebut ia beranggapan bahwa bisa saja kertas-kertas itu merupakan hasil prakarya / kerajinan tangan seorang anak yang tercecer di jalanan. Bisa pula bahan untuk membuat suatu kerajinan sehingga apabila kertas-kertas tersebut tidak ada maka kerajinan tangan tidak dapat di buat. “ kasihan.....”

Dari kedua ilustrasi diatas di gambarkan bahwa setiap individu memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda sehingga dengan satu kejadian yang sama informasi yang diterima akan menjadi berbeda dan pendapat yang disampaikan juga pasti akan berbeda. Bayangkan apabila kita tidak memahami diri kita maupun orang lain maka hal kecil saja bisa menjadi suatu hal yang besar terkadang sampai memicu pertengkaran.
Alangkah indahnya apabila kita bisa saling memahami setiap diri individu sehingga dalam kehidupan akan tercipta damai. Dengan mengetahui hal tersebut sangat membantu kita untuk dapat menerima informasi atau pendapat orang lain.

Fingerprint test dapat mengetahui peringkat kecerdasan sehingga bermanfaat dalam melakukan sosialisasi di lingkungan. Bermanfaat juga untuk mengetahui bagaimana cara membimbing anak-anak kita agar dalam kehidupan kedepannya menjadi lebih baik dan optimal.

Salam Sukses Selalu
Olsa Desiastu, S.Psi.
Senior Konsultan Smart Business Solution

Rabu, 09 Mei 2012

Memahami Learning Style

Anak : Ma....tadi aku d marahi pak guru
Ibu : lho kenapa nak
Anak : Iya, ma td pak guru tanya, shof sholat di bagian mana yang punya pahala lebih besar.
Ibu : oh..trus adik jawab apa?
Anak : Ya terserah dimana aja kan sama aja yang penting sholat
Ibu : Adik jawab seperti itu. (Dengan kebingungan)
Anak : Iya dong...

Dari percakapan diatas, ibu tersebut datang kepada kami dan menyampaikan kebingungannya. Beliau tidak bisa menjelaskan kepada putrinya, beliau sendiri merasa pendapat putrinya ada benarnya juga tapi dia juga tidak bisamembenarkan pendapat putrinya. Ia tahu bahwa putrinya tidak mudah untuk diberikan penjelasan.

Setelah mendengar cerita si ibu maka kami mengajak beliau untuk melihat hasil dari tes fingerprint putrinya. Disana kami tunjukkan pada beliau bahwa;

1. Putrinya memiliki kecerdasan logika pada level 1 dan kecerdasan verbal pada level 2. Individu yang memiliki dua kecerdasan ini pada level tinggi tergolong individu yang mampu memahami sesuatu dengan cepat dan memiliki kemampuan logika yang baik sehingga ia tidak mudah untuk menerima penjelasan yang menurut logikanya tidak bisa diterima.

2. Kemudian kami mengajak ibu tersebut untuk melihat bagaimana gaya belajarnya, ternyata individu memiliki gaya belajar Enlightening. Dengan gaya belajar yang dimilikinya, dalam memahami sesuatu individu perlu di berikan beberapa contoh nyata yang terjadi dalam keseharian. Dengan contoh-contoh tersebut maka ia mampu menangkap apa makna yang terdapat dari hal yang disampaikan.

Si ibu juga menyampaikan bahwa kalau diberitahu putrinya tersebut pasti bilang “mama ini yach marah-marah terus”. Padahal si ibu tidak marah hanya suaranya sedikit keras.

Individu dengan tipe karakter seperti ini harus diberikan contoh yang banyak sehingga tidak menganggap 1 keadaan mewakili setiap keadaan. Contohnya suara keras = marah. Kita dapat berikan contoh misalkan ada seorang anak hendak menyebrang jalan, dia sudah melihat ke kanan-kiri dan keadaan jalan sepi maka menyebranglah dia, namun tiba-tiba ada mobil yang hendak lewat dengan kecepatan tinggi maka mama berteriak memanggil-manggil anak tersebut. Apakah itu mama marah?.
Atau bisa juga diberikan contoh bahwa orang yang tinggal di kota dan di tepi pantai kalau ngomong keras yang mana. Pasti lebih keras yang dipantai karena mereka bersaing dengan suara ombak.

Dengan contoh-contoh tersebut diharapkan bisa membuat anak menjadi lebih memahaminya.
Dengan memahami cara dan gaya belajar setiap individu secara cepat dan tepat sangat membantu orang tua dalam mengarahkan maupun menegur individu. Orang tua membutuhkan waktu yang relatif lebih singkat sehingga memiliki banyak kesempatan untuk mengambangkan potensi yang ada.
Melalui fingerprint test mampu menggali dan mengembangkan potensi dasar setiap individu dengan waktu yang relatif lebih cepat dan hasil yang diharapkan menjadi lebih optimal.

Salam Sukses Selalu
Olsa Desiastu, S.Psi.
Senior Konsultan Smart Business Solution

Jumat, 27 Mei 2011

Optimasi Belajar dengan memperhatikan Gaya Belajar Anak

Seorang ibu datang kepada kami untuk melakukan konseling setelah mengikuti Tes Sidik Jari, ia mengeluhkan bahwa putranya sulit untuk diajari berhitung. Beliau menanyakan bagaimana cara untuk mengatasi hal tersebut, mengingat saat ini putranya sudah duduk di kelas 4 SD. Kamipun menanyakan pada beliau, selama ini bagaimana cara beliau dalam mengajari berhitung pada putranya. Si ibu mengatakan bahwa ia sering mengajak putranya untuk memejamkan mata dan kemudian si ibu memberikan tebakan dalam penjumlahan. Si ibu mengharapkan agar anaknya cepat dan tepat dalam menjawabnya, namun pada kenyataannya si anak malah membuka matanya dan melihat jarinya kemudian menghitung dengan menggunakan jarinya.

Berdasarkan dari hasil tes sidik jarinya, si anak memiliki learning style adalah audio learner, dimana dengan gaya belajar seperti ini individu yang bersangkutan akan lebih optimal apabila ia bersuara. Ciri-ciri dari individu yang audio learner adalah apabila ia belajar atau melakukan sesuatu ia cenderung akan bersuara sehingga telinganya mendengar.

Pada dasarnya setiap individu akan mengingat sesuatu dalam alam bawah sadarnya adalah berupa gambar sehingga apabila ia mendapatkan suatu informasi maka akan lebih banyak gambaran tersebut yang diingatnya. Begitu pula dengan cara berhitung, selama ini yang dialami oleh anak-anak adalah cara berhitung sesuai urutan yang ditunjukkan dengan jari sehingga apabila gambarannya tidak sama maka anak cenderung menjadi lambat dalam merespon. Oleh karena itu menghitung perlu dibedakan dengan membilang.

Beberapa cara dalam mengajarkan anak untuk berhitung :

1. Mengajarkan Berhitung vs Mengajarkan jumlah bilangan pada anak.
Berhitung memiliki urutan. Apabila anak diajarkan menghitung dengan jarinya maka ia cenderung menyelesaikan soal berhitunganya dengan menghitung berurutan. Cara ini akan menghambat anak dalam menyelesaikan persoalan berhitung yang diberikan. Mengajarkan anak memahami konsep jumlah bilangan akan mempercepat ia melakukan operasi perhitungan. Angka 2 tidak harus ditunjukkan dengan jari tengah tetapi jarinya ada 2.

Dengan cara ini anak akan dengan cepat memahami konsep penjumlahan. Begitu pula apabila kita hendak menunjukkan jumlah bilangan 2, 3, 4 dst. Kita dapat menggunakan kombinasi antara jari-jari kita baik tangan kiri maupun kanan sehingga gambaran yang tercipta pada alam bawah sadar anak adalah jumlah yang terlihat bukan gambar urutan jari yang dihitung.

Oleh karena itu pada pelajaran matematika diperlihatkan gambaran seperti topi yang berjumlah 5 buah ditambahkan dengan 2 topi sehingga anak mampu untuk menjawabnya dengan benar dan cepat. Terutama anak yang memiliki sidik jari berbentuk arch, dimana pengaruh faktor lingkungan atau apa yang dipelajarinya sangat berpengaruh terhadap cara ia menyelesaikan persoalan berhitung yang diberikan padanya.


2. Urutan belajar berhitung mempengaruhi kecepatan anak belajar berhitung.
Pada umumnya kita mengajarkan penjumlahan pada anak adalah mulai dari 1, 2, 3 hingga 10. Terkadang anak melakukan kesalahan dalam menjawabnya, apabila hal ini terjadi berulangkali maka si anak cenderung akan memiliki perasaan bahwa apa yang dijawabnya selalu salah hal ini akan mengakibatkan daya juang anak akan menurun. Hal ini akan berpengaruh pada kehidupannya dimasa yang akan datang.

Oleh karena itu, ajarkan pada anak menghitung dari angka 1, 2, 10, 9, 3, 4, 5, 6, 7 dan 8. Dengan menerapkan cara seperti itu anak akan menjawab dengan benar dan akan merasa bisa untuk selanjutnya sehingga daya juangnnya akan terjaga. Apabila terjadi kesalahan yang kecil tidak akan membuat anak menjadi turun motivasi belajarnya dan menganggap dirinya tidak bisa.

Khusus untuk penjumlahan 9 dapat diajarkan jalan yang mudah seperti:
- 9 + 1 = 10 caranya adalah 1 – 1 = 0
- 9 + 2 = 11 caranya adalah 2 – 1 = 1
Yang diambil adalah angka pengurangan 1 dan hasilnya.
Untuk hal ini yang perlu diperkuat adalah perhitungan pada pengurangan 1

3. Perlunya mengubah urutan belajar berhitung
Biasanya dalam mengajarkan berhitung kita melakukan pengurutan, misalnya:
1 + 1 = 2, kemudian 1 + 2 = 3, kemudian 1 + 3 = 4 dst. Hal tersebut dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi anak, anak akan mendapatkan gambaran yang berurutan sehingga apabila ia menghadapi persoalan yang acak anak cenderung akan kebingungan. Baik apabila kita mengajarkannya adalah dengan mengacak misalnya, 1 + 2 = 3 kemudian 2 + 1 = 3 dan seterusnya.

Membenahi model cara berhitung dengan menyesuaikan terhadap gaya belajar anak menyebabkan percepatan dalam anak menguasai operasi penjumlahan.

Salam Sukses Selalu
Olsa Desiastu, S.Psi.
Senior Konsultan Smart Business Solution